JURNALIDN – Kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah kian mengkhawatirkan, hal inilah yang mendorong sutradara Tarmizi Abka untuk bersuara melalui karyanya di ranah layar lebar. Keresahan tersebut ia tuangkan dalam film terbarunya berjudul “Sayap Garuda”, yang mengangkat isu bullying sebagai persoalan serius dalam dunia pendidikan Indonesia.
Film ini diproduksi bekerja sama dengan Sekolah SUKMA di bawah bendera TRAZZ PICTURES, dengan Malang Raya dipilih sebagai lokasi utama pengambilan gambar.
Bagi Tarmizi, “Sayap Garuda” bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan medium edukasi dan refleksi sosial yang menyoroti dampak psikologis perundungan terhadap generasi muda.
“Film ini lahir dari keprihatinan saya melihat semakin banyaknya kasus kekerasan di sekolah. Dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar,” ujar Tarmizi Abka.
Untuk memperkuat pesan cerita, Tarmizi menggandeng sejumlah aktor nasional lintas generasi. Yama Carlos dan August Melasz dipercaya menghadirkan kedalaman emosional, sementara Zahwa Malabar serta pendatang baru Enrique Christian Raharja mewakili suara generasi muda yang menjadi korban sekaligus penyintas perundungan.
Melalui pendekatan dramatik yang realistis, film ini menggambarkan bagaimana bullying tidak hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan trauma mental jangka panjang. Tarmizi menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bebas dari rasa takut.
Tak berhenti pada produksi film, Tarmizi Abka juga menginisiasi program Duta Anti-Bullying dengan melibatkan siswa-siswi berprestasi yang ikut ambil bagian dalam film ini. Ia berharap kehadiran mereka mampu menyampaikan pesan penolakan terhadap perundungan secara lebih dekat dan relevan bagi kalangan pelajar.
“Kami ingin mereka menjadi contoh nyata di lingkungan sekolah masing-masing. Mereka adalah generasi yang berani berkata tidak pada bullying dan membuktikan bahwa prestasi jauh lebih membanggakan daripada kekerasan,” jelasnya.
Lebih jauh, Tarmizi membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah pusat maupun daerah agar “Sayap Garuda” dapat dimanfaatkan sebagai materi edukatif terkait pembentukan karakter, empati, dan nilai kemanusiaan di sekolah-sekolah.
“Ini adalah bentuk kontribusi kami di industri kreatif untuk membantu menyelamatkan masa depan pelajar Indonesia. Lewat film ini, kami mengampanyekan STOP BULLYING agar sekolah kembali menjadi tempat yang nyaman dan membahagiakan,” tegas Tarmizi.
Melalui “Sayap Garuda”, Tarmizi Abka berharap dapat memantik kesadaran kolektif masyarakat untuk bersama-sama membangun dunia pendidikan yang lebih humanis, aman, dan bebas dari kekerasan.
“Harapannya lagi, kita bisa kerjasama dengan pemerintah untuk menayangkan film ini di seluruh pelajar se Indonesia agar bisa mengambil makna dari film ini yaitu stop bullying,” tutup Tarmizi Abka. ***